-
Email:
Callcenter_djid@komdigi.go.id -
Call us:
159 -
Webmail:
Surel
- Beranda
- Informasi & Publikasi
- Informasi Terkini
Seputar DJID
Komdigi Siapkan Empat Agenda Penguatan Infrastruktur Digital Nasional Pascabali Tech Week 2026
Denpasar (Infrastruktur Digital) – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyiapkan empat agenda tindak lanjut Bali Tech Week 2026 untuk memperkuat infrastruktur digital nasional sebagai fondasi kedaulatan digital Indonesia. Agenda tersebut mencakup pemetaan infrastruktur digital, percontohan pemanfaatan teknologi, pengembangan talenta dan inovasi kecerdasan artifisial (AI), serta penyelarasan regulasi dan investasi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyampaikan bahwa berbagai pembahasan dalam Bali Tech Week 2026 perlu diterjemahkan menjadi rencana aksi konkret yang melibatkan pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), pelaku industri, perguruan tinggi, dan komunitas teknologi.
“Forum yang baik tidak hanya diukur dari ramainya diskusi ataupun dinamisnya perbincangan, melainkan dari apa yang akan kita kerjakan setelahnya,” ujar Nezar dalam Sovereign Tech Summit 2026, bagian dari rangkaian Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Kamis (22/10/2026).
Menurut Nezar, infrastruktur digital menjadi elemen strategis dalam memperkuat kedaulatan digital, terutama di tengah perkembangan ekonomi berbasis AI. Kedaulatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membangun jaringan, tetapi juga mencakup pengelolaan aliran data, kapasitas pusat data dan komputasi, serta kesiapan sumber daya manusia untuk mengembangkan teknologi.
Agenda pertama yang akan ditindaklanjuti adalah penyusunan dokumen pemetaan infrastruktur dan teknologi digital nasional dalam 30 hari ke depan. Kemkomdigi bersama asosiasi industri akan merangkum hasil diskusi Bali Tech Week 2026 sebagai landasan penyusunan rencana aksi pengembangan infrastruktur digital.
Pemetaan ini mencakup infrastruktur strategis, antara lain jaringan serat optik, kabel laut (submarine cable), dan satelit. Melalui pemetaan tersebut, para pemangku kepentingan diharapkan dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan jaringan, tantangan konektivitas, serta peluang optimalisasi infrastruktur yang telah tersedia.
“Saya kira ada banyak poin strategis yang perlu ditindaklanjuti, mulai dari serat optik, kabel laut, hingga satelit. Hasil diskusi ini perlu kita rangkum menjadi rencana aksi yang bisa dikerjakan bersama,” kata Nezar.
Langkah ini menjadi penting untuk mendukung perencanaan infrastruktur digital yang lebih terarah, memperkuat keterhubungan antardaerah, serta mendorong pemanfaatan infrastruktur secara lebih efektif sesuai kebutuhan nasional.
Agenda kedua diarahkan pada pengembangan inisiatif percontohan (proof of concept) yang mempertemukan pemerintah dan industri untuk mengadopsi serta mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur digital. Program ini akan melibatkan BUMN, korporasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan pembagian tanggung jawab, target, dan jadwal pelaksanaan yang jelas.
Melalui inisiatif tersebut, pembangunan infrastruktur digital diharapkan tidak berhenti pada penyediaan jaringan dan fasilitas teknologi, tetapi juga mendorong pemanfaatan yang produktif bagi masyarakat dan dunia usaha. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar investasi infrastruktur dapat menghasilkan layanan, inovasi, dan nilai tambah ekonomi.
Sementara itu, agenda ketiga berfokus pada penguatan talenta dan inovasi AI melalui kerja sama industri, lembaga riset perguruan tinggi, dan komunitas teknologi. Kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk mengoptimalkan infrastruktur digital, mengembangkan solusi berbasis teknologi, serta meningkatkan kemampuan nasional dalam menciptakan inovasi.
Agenda keempat adalah penyelarasan kebijakan dan investasi agar mampu mengikuti perkembangan teknologi. Kemkomdigi akan meninjau regulasi yang berlaku untuk memastikan kebijakan tetap relevan dengan kebutuhan ekosistem digital sekaligus membuka ruang bagi inovasi yang bertanggung jawab.
Nezar menyoroti potensi teknologi satelit, termasuk satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO), untuk membantu mengatasi keterbatasan jaringan telekomunikasi, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), kawasan maritim, serta daerah perbatasan.
“Regulasi harus bisa merespons perkembangan teknologi. Ada banyak hal yang mungkin belum tersentuh oleh regulasi saat ini, padahal bisa memperkuat ekosistem teknologi satelit,” tegas Nezar.
Nezar menegaskan bahwa keterbukaan terhadap kolaborasi dan investasi global harus berjalan seiring dengan kemampuan Indonesia menjaga kepentingan strategis nasional.
Keempat agenda tersebut sejalan dengan tiga pilar Bali Tech Week 2026, yakni Sovereign Digital Infrastructure, Sovereign Intelligence and Impact, serta Sovereign Trust and Risk Alliance. Ketiganya menempatkan infrastruktur digital yang andal, pemanfaatan AI yang berdampak, serta ekosistem digital yang aman dan tepercaya sebagai fondasi penguatan kedaulatan digital Indonesia.
Sumber/ Foto: Humas Infrastruktur Digital.