-
Email:
Callcenter_djid@komdigi.go.id -
Call us:
159 -
Webmail:
Surel
- Beranda
- Informasi & Publikasi
- Informasi Terkini
Seputar DJID
Komdigi Gandeng Swedfund Siapkan Strategi Pemerataan Konektivitas hingga Desa Terpencil
Jakarta (Infrastruktur Digital) – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Swedfund International AB dan Business Sweden memperkuat kerja sama untuk mempercepat pemerataan konektivitas digital melalui pelaksanaan Feasibility Study on Inclusive Broadband Connectivity for Rural Development atau Studi Kelayakan Konektivitas Broadband Inklusif untuk Pembangunan Perdesaan.
Kerja sama tersebut didukung hibah senilai SEK 8.000.000 dari Swedfund. Studi kelayakan ini diharapkan menjadi landasan dalam menyusun strategi pembangunan jaringan telekomunikasi untuk menuntaskan desa yang masih mengalami blank spot maupun memiliki kualitas sinyal yang lemah.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Wayan Toni Supriyanto menyampaikan bahwa percepatan penuntasan desa blank spot merupakan salah satu agenda penting dalam mendukung target pemerataan konektivitas digital sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2025–2029.
“Universal connectivity tidak hanya berarti membangun lebih banyak menara atau mencapai cakupan 100 persen di atas peta. Lebih dari itu, konektivitas universal berarti memastikan masyarakat memiliki akses terhadap konektivitas yang andal dan dapat mendukung pendidikan, kegiatan ekonomi, pelayanan publik, serta kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Selasa (8/9/2026).
Saat ini, cakupan broadband seluler 4G diperkirakan telah mencapai sekitar 99 persen populasi. Namun, angka tersebut merupakan prediksi cakupan dan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi aktual di lapangan. Masih terdapat wilayah yang telah mendapatkan sinyal 4G, tetapi kualitas dan keandalan layanannya belum optimal.
Berdasarkan identifikasi yang dilakukan, terdapat 3.493 desa yang masuk dalam kategori blank spot atau memiliki sinyal lemah. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau.
Sejumlah wilayah terpencil memiliki kepadatan penduduk yang rendah, keterbatasan infrastruktur listrik dan transportasi, akses backhaul yang sulit, serta biaya pembangunan dan operasional jaringan yang relatif tinggi.
Untuk itu, diperlukan strategi implementasi yang komprehensif sebagai dasar dalam menentukan prioritas pembangunan, pendekatan teknologi, kebutuhan pendanaan, serta tahapan pelaksanaan pembangunan konektivitas secara nasional.
“Melalui feasibility study ini, Komdigi berharap dapat membangun landasan teknis dan bisnis yang lebih kuat untuk mengatasi kesenjangan konektivitas, khususnya di wilayah perdesaan dan daerah yang sulit dijangkau” sambungnya.
Selain tantangan infrastruktur telekomunikasi, ketersediaan listrik juga menjadi salah satu faktor penting dalam pembangunan jaringan di wilayah perdesaan dan terpencil.
Komdigi saat ini bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyelaraskan program Listrik Desa dengan 3.493 desa yang mengalami blank spot dan sinyal lemah.
Sinkronisasi tersebut membuka peluang pembangunan infrastruktur telekomunikasi dilakukan secara bersamaan dengan program elektrifikasi perdesaan sehingga pembangunan konektivitas dapat berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan.
“Dengan dukungan listrik yang memadai, pembangunan infrastruktur digital dapat dilakukan secara lebih optimal, efisien, dan andal. Karena itu, sinergi antarkementerian menjadi penting untuk memastikan pembangunan konektivitas memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelas Wayan Toni.
Hasil feasibility study nantinya diharapkan menghasilkan rekomendasi praktis mengenai strategi pembangunan konektivitas di wilayah yang memiliki tantangan teknis dan ekonomi. Selain menjadi dasar penentuan prioritas pembangunan, hasil studi juga diharapkan dapat membuka peluang dukungan pembiayaan pada tahap implementasi melalui skema EU Global Gateway.
Kerja sama feasibility study ini diawali dengan penandatanganan Grant Agreement antara Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital dan Swedfund di Gedung Danareksa Jakarta Pusat pada 3 September 2025.
“Kami sangat menghargai dukungan Swedia melalui Swedfund dalam memajukan agenda konektivitas digital Indonesia. Kemitraan ini mempertemukan pengalaman internasional dan keahlian teknis untuk membantu kita mengatasi berbagai tantangan konektivitas di wilayah perdesaan dan daerah yang sulit dijangkau,” ungkapnya.
Komdigi berharap kolaborasi bersama Swedfund dan Business Sweden dapat berjalan optimal serta menghasilkan rekomendasi yang dapat berkontribusi terhadap pembangunan konektivitas yang lebih baik, andal, dan inklusif bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Sumber/ Foto: Humas Infrastruktur Digital.