-
Email:
Callcenter_djid@komdigi.go.id -
Call us:
159 -
Webmail:
Surel
- Beranda
- Informasi & Publikasi
- Informasi Terkini
Seputar DJID
Komdigi Tegaskan Satelit sebagai Pilar Kedaulatan Digital pada Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia
Jakarta (Infrastruktur Digital) – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingati 50 Tahun Satelit Indonesia melalui Seminar Nasional bertajuk "Kedaulatan Digital dari Ruang Angkasa" di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, BRIN Pusat, Jakarta, Rabu (8/7/2026). Momentum ini menjadi refleksi perjalanan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia yang mengoperasikan satelit komunikasi domestik melalui peluncuran Satelit Palapa A1 pada 8 Juli 1976 sekaligus mempertegas komitmen membangun kemandirian teknologi satelit nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Wayan Toni Supriyanto, menegaskan bahwa satelit merupakan infrastruktur strategis yang tidak hanya menghadirkan konektivitas, tetapi juga menjadi fondasi kedaulatan digital nasional. Menurutnya, bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, satelit memiliki peran vital dalam mendukung layanan komunikasi, pendidikan, kesehatan, penanggulangan bencana, hingga pertahanan di wilayah yang belum terjangkau jaringan terestrial.
"Konektivitas satelit bukan semata urusan teknis, melainkan urusan kedaulatan. Siapa yang menguasai infrastruktur satelitnya sendiri, dialah yang menguasai masa depan ketahanan informasi dan komunikasi bangsanya," ujar Wayan.
Ia juga mengajak pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga riset untuk memperkuat ekosistem satelit nasional melalui pengembangan riset, manufaktur komponen dan wahana antariksa, serta kebijakan yang mendukung kemandirian teknologi. Selain itu, generasi muda didorong untuk berperan aktif dalam inovasi teknologi antariksa agar Indonesia mampu menjadi produsen teknologi satelit, bukan sekadar pengguna.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria menyampaikan bahwa selama lima dekade terakhir satelit telah menjadi fondasi penting pembangunan nasional. Selain mendukung layanan telekomunikasi dan penyiaran, satelit juga dimanfaatkan untuk pengelolaan sumber daya alam, pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, ketahanan pangan, serta penguatan ekonomi digital melalui penyediaan data dan konektivitas yang andal.
“Dalam RPJPN 2025–2045, sektor antariksa bahkan diposisikan sebagai salah satu megatren global yang akan menentukan daya saing bangsa melalui penguatan space economy, space sustainability, dan space defense” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen membangun kemandirian teknologi antariksa, BRIN menargetkan peluncuran Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) pada Januari 2027. Satelit observasi bumi tersebut dikembangkan sepenuhnya oleh talenta Indonesia, mulai dari tahap perancangan, integrasi, pengujian, hingga operasi misi. Langkah ini diharapkan menjadi pijakan menuju kemampuan Indonesia memproduksi satelit telekomunikasi nasional secara mandiri sekaligus memperkuat kedaulatan digital.
Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia juga diisi dengan peluncuran Prangko PRISMA Edisi 50 Tahun Satelit Indonesia, seminar nasional yang menghadirkan para pemangku kepentingan lintas sektor, serta pemberian apresiasi kepada para pemenang Indonesia Aerospace Hackathon 2026. Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap lahir berbagai inovasi dan rekomendasi strategis yang mampu mempercepat pengembangan industri satelit nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat di bidang teknologi antariksa menuju Indonesia Emas 2045.
Seminar nasional tersebut menghadirkan dua sesi diskusi yang membahas arah pengembangan industri satelit nasional dan peran strategis satelit dalam memperkuat infrastruktur digital Indonesia.
Pada Sesi I bertajuk "Perjalanan dan Transformasi Industri Satelit Indonesia: Teknologi, Regulasi, dan Roadmap Menuju Indonesia Emas 2045", diskusi dipandu oleh praktisi satelit Meiditomo Sutyarjoko sebagai moderator. Sesi ini menghadirkan Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., , Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Stella Christie, B.A., Ph.D., Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Adis Alifiawan , serta Ketua Umum Asosiasi Antariksa Indonesia (ARIKSA) Adi Rahman Adiwoso. Para panelis membahas transformasi industri satelit Indonesia dari aspek teknologi, regulasi, pengembangan sumber daya manusia, hingga strategi memperkuat ekosistem antariksa nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Sesi II mengangkat tema "Peran Strategis Satelit dalam Infrastruktur Digital: Dari Konektivitas hingga Ketahanan Nasional" yang dimoderatori oleh Executive Director Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi. Diskusi menghadirkan Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Denny Setiawan, Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas Dr. Vivi Yulaswati, M.Sc., Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Marsekal Muda (Marsda) TNI H. Haris Haryanto, S.I.P., serta Ketua Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Risdianto Yuli Hermansyah. Para narasumber membahas pemanfaatan teknologi satelit dalam memperluas konektivitas nasional, mendukung transformasi digital, memperkuat ketahanan nasional, serta mendorong kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi dalam membangun ekosistem satelit yang berkelanjutan.
Sumber/ Foto: Humas Infrastrukur Digital.