-
Email:
Callcenter_djid@komdigi.go.id -
Call us:
159 -
Webmail:
Surel
- Beranda
- Informasi & Publikasi
- Informasi Terkini
Seputar DJID
Kolaborasi Membangun Konektivitas untuk Keselamatan, Pelayanan, dan Masa Depan Digital
Jakarta (Infrastruktur Digital) - Kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi utama dalam mendorong terwujudnya infrastruktur digital nasional yang andal, merata, dan berkelanjutan. Pemerintah, pelaku industri, operator telekomunikasi, serta pemangku kepentingan lainnya berjalan beriringan, menyatukan peran dan sumber daya demi satu tujuan bersama: menghadirkan konektivitas yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat.
“Dunia digital bukan ruang yang bisa dijaga oleh satu pihak saja. Regulasi tidak akan bermakna tanpa kepatuhan, dan kebijakan tidak akan berdampak tanpa keterlibatan semua pemangku kepentingan. Sinergi menjadi kunci, terutama di sektor yang bergerak secepat dan seluas ranah digital” Ucap Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam sambutan pada kegiatan Digi Wave 2025, Kamis (18/12/2025).
Sebelum melanjutkan sambutananya, Meutya memberikan apresiasi tinggi atas terciptanya kolaborasi dan sinergi pemerintah dengan stakeholder telekomunikasi dalam membantu dan menyelesaikan permasalah yang terjadi saat bencana banjir yang terjadi di Sumatra beberapa pekan lalu.
“Apresiasi disampaikan kepada Telkomsel, Indosat, dan XLsmart yang sejak hari pertama bencana tidak hanya hadir secara administratif, tetapi benar-benar turun tangan, bekerja, dan melaporkan perkembangan pemulihan secara rutin” ungkapnya.
Lebih lanjut Meutya menjelaskan, bahwa di balik angka-angka progres pemulihan layanan telekomunikasi yang disampaikan mencapai 99 persen di Sumatra Barat, hampir 98 persen di Sumatra Utara. “ini merupakan hasil kolaborasi kerja panjang, koordinasi tanpa jeda, dan kepedulian yang nyata” tegasnya.
Setiap hari, komunikasi daring terus terjalin antara pemerintah dan operator seluler. Bukan sekadar laporan teknis, melainkan ikhtiar bersama untuk memastikan masyarakat kembali terhubung. Di tengah capaian tersebut, perhatian khusus diarahkan ke Aceh. Meski pemulihan fisik infrastruktur sudah mendekati 90 persen, layanan yang benar-benar aktif dan bisa digunakan masyarakat masih berada di angka 50 persen.
“Angka ini menjadi pengingat bahwa tugas belum selesai, bahwa di balik setiap persentase, ada warga yang menunggu sinyal untuk berkomunikasi dengan keluarga, mengakses informasi, bahkan menyelamatkan diri” ungkap Menutya.
Diakhir sambutannya Menkomdigi menjelaskan bahwa cepatnya pertumbuhan industri digital yang semakin beragam menjadi salah satu keharusan para pemangku kepentingan dapat memperluas ekosistemnya, penuh warna, dan kaya perspektif. Keragaman ini adalah kekuatan, asalkan dibarengi dengan ruang berbagi pengetahuan dan semangat belajar bersama.
Serta tidak lupa mengapresiasi Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital telah memberikan penghargaan kepada mitra kerja yang berperan aktif dalam mendukung kemajuan transformasi digital nasional dibawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
“Acara hari itu bukan hanya tentang penghargaan dan seremoni. Ia menjadi ruang perjumpaan, tawa, refleksi, dan pengingat bahwa di balik teknologi, regulasi, dan infrastruktur, ada manusia-manusia yang bekerja dengan hati. Dan selama semangat berlomba dalam kebaikan terus dijaga, ranah digital Indonesia akan melaju bukan hanya cepat, tetapi juga bermakna” tutupnya.
Sebagai informasi Digiwave: Digital Infrastructure Work Achievement Vibrant Expression merupakan acara tahuanan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital yang sebelumnya bernama IFaS-Fest Innovations of Frequency and Standardization Festival. Digi Wave merupakan ruang bersama untuk saling menguatkan, ruang di mana kerja keras, dedikasi, dan kolaborasi diterjemahkan menjadi energi positif untuk melangkah lebih jauh ke depan.
Selaras dengan yang disampaikan oleh Menkomdigi, Dirjen Infrastruktur Digital Wayan Toni Supriyanto juga menekankan pentingnya koloborasi antar pemerintah dan industri. “dibutuhkan sinergi yang lebih kuat, keberanian untuk berkolaborasi, dan kesamaan visi agar teknologi benar-benar menjadi jembatan, bukan jurang, bagi masyarakat Indonesia” ucapnya.
Lebih lanjut Ia menjelaskan, Ditjen Infrastruktur Digital memegang peran yang sangat strategis, berdiri di garda depan untuk mempercepat penggelaran infrastruktur digital, memperkuat sinyal, mengurangi blank spot, dan memperluas jangkauan jaringan hingga ke wilayah-wilayah yang selama ini sulit terhubung.
Tujuan Ditjen Infrastruktur Digital sederhana, tetapi fundamental: memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, dan berusaha tanpa terhalang oleh koneksi. “karena kita semua sepakat, tanpa fondasi infrastruktur digital yang kokoh, transformasi digital tidak akan berjalan optimal” jelas Wayan.
Wayan menyampaikan bahwa upaya ini sejalan dengan arah besar Indonesia Digital: Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.
Terhubung berarti memastikan konektivitas digital yang inklusif, berkualitas, dan terjangkau—dari pusat kota hingga pelosok desa, dari pulau besar hingga wilayah terluar. Konektivitas inilah yang menopang pendidikan, layanan kesehatan, pelayanan publik, penguatan ekonomi, hingga respons cepat saat bencana terjadi.
Tumbuh berarti transformasi digital yang menghadirkan manfaat nyata. Kita ingin melihat UMKM naik kelas, talenta digital berkembang, pemerintahan digital yang semakin terpadu, serta kolaborasi yang sehat dengan ekosistem global—semuanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sementara Terjaga menegaskan bahwa ruang digital harus aman dan terpercaya. Masyarakat perlu dilindungi dari penipuan, judi online, eksploitasi anak, dan konten berbahaya. Data pribadi harus dihormati, dan infrastruktur kritikal dikelola secara bertanggung jawab demi kedaulatan digital bangsa.
Tahun 2025 menjadi titik awal yang penting dalam perjalanan panjang menuju Indonesia Digital 2045. Pada fase pertama (2025–2029), berfokus pada penguatan fondasi digital, membangun infrastruktur yang merata, andal, berkapasitas tinggi, dan stabil. Target yang ingin dicapai antara lain peningkatan jangkauan fiber optik di kecamatan hingga 90 persen, cakupan mobile broadband mencapai 98 persen populasi, serta peningkatan kecepatan internet baik fixed maupun mobile broadband hingga 100 Mbps pada 2029.
Untuk mewujudkan itu semua, langkah-langkah konkret sudah disiapkan: mendorong fiberisasi hingga desa bersama mitra kerja dan pemerintah daerah, menambah spektrum frekuensi untuk kebutuhan broadband, memperkuat skema open access dan infrastructure sharing, serta memberikan insentif dan penyederhanaan biaya regulasi agar investasi semakin bergairah.
´Akhir kata, saya berharap kolaborasi yang telah terbangun ini tidak hanya berlanjut, tetapi semakin kuat dan bermakna. Mari kita bangun infrastruktur digital yang lebih kokoh, lebih merata, dan lebih inklusif agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bangsa yang unggul dan berdaulat di dunia digital. Dengan semangat kebersamaan, saya yakin tantangan apa pun dapat kita hadapi, dan visi besar Indonesia Digital 2045 dapat kita wujudkan bersama” tutupnya.
Sumber/ Foto: Humas Infrastruktur Digital.