-
Email:
Callcenter_djid@komdigi.go.id -
Call us:
159 -
Webmail:
Surel
- Beranda
- Informasi & Publikasi
- Informasi Terkini
Seputar DJID
Komdigi Perkuat Komunikasi Kebencanaan melalui Pengelolaan Frekuensi Radio di Sumatera Barat
Pariaman (Infrastruktur Digital) — Kesiapan komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi bencana. Untuk memastikan koordinasi tetap berjalan ketika terjadi kondisi darurat, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio dan Infrastruktur Digital (Balmon SFR ID) Kelas II Padang turut mendukung pelaksanaan simulasi kebencanaan megathrust di Kota Pariaman, Sumatera Barat.
Simulasi yang berlangsung pada 29–30 September 2026 tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Provinsi Sumatera Barat sekaligus menjadi refleksi 17 tahun gempa besar yang terjadi pada September 2009. Kegiatan ini bertujuan menguji rencana kontinjensi sekaligus memperkuat kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya ancaman gempa megathrust.
Puncak simulasi dilaksanakan pada 30 September 2026 melalui evakuasi massal yang melibatkan sekitar 1.200 peserta. Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat, siswa dari lima sekolah dasar di sekitar Pariaman, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, serta berbagai unsur pendukung kebencanaan.
Dalam kegiatan tersebut, Balmon SFR ID Kelas II Padang berperan memastikan penggunaan spektrum frekuensi radio dan kualitas layanan telekomunikasi tetap terpantau selama simulasi berlangsung. Dukungan ini penting untuk menjaga komunikasi antarpetugas, khususnya dalam koordinasi penanganan dan pengendalian operasi kebencanaan.
Dalam penanganan bencana, komunikasi yang cepat dan andal dibutuhkan untuk menyampaikan informasi, mengoordinasikan evakuasi, serta menghubungkan petugas di lapangan dengan pusat pengendalian operasi.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Balmon SFR ID Kelas II Padang telah menyediakan alokasi frekuensi radio khusus kebencanaan pada pita VHF, dengan frekuensi 159,200 MHz untuk transmisi (Tx) dan 165,850 MHz untuk penerimaan (Rx).
Frekuensi tersebut didukung repeater yang ditempatkan di Gunung Singgalang dan Kantor Balmon Padang, serta mobile repeater. Infrastruktur tersebut memungkinkan cakupan komunikasi mencapai sekitar 80 persen wilayah Sumatera Barat.
Kepala Balmon SFR ID Kelas II Padang, Puput Adi Saputro menegaskan bahwa kesiapan sarana komunikasi perlu dipastikan jauh sebelum bencana terjadi. Menurutnya, ketersediaan frekuensi khusus kebencanaan dapat membantu memperkuat koordinasi antarinstansi ketika jaringan komunikasi dalam kondisi darurat menghadapi tantangan.
“Dalam kondisi bencana, komunikasi bukan sekadar sarana untuk menyampaikan informasi, tetapi menjadi bagian penting dalam menentukan kecepatan respons di lapangan. Karena itu, kami terus mendorong agar frekuensi kebencanaan yang telah dialokasikan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh BPBD dan instansi terkait,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan frekuensi yang telah disiapkan perlu diikuti dengan koordinasi dan sosialisasi secara berkelanjutan, termasuk melalui latihan bersama. Dengan demikian, setiap personel yang terlibat dalam penanganan bencana memahami kanal komunikasi yang digunakan dan dapat berkoordinasi secara cepat ketika situasi darurat terjadi.
“Simulasi seperti ini penting untuk menguji kesiapan, bukan hanya dari sisi evakuasi masyarakat, tetapi juga dari sisi komunikasi. Harapannya, ketika terjadi bencana, seluruh unsur sudah mengetahui bagaimana berkomunikasi dan berkoordinasi sehingga tidak lagi mencari atau menyiapkan sarana komunikasi pada saat keadaan darurat,” jelas Puput.
Hasil evaluasi simulasi menunjukkan masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperkuat, terutama koordinasi penggunaan komunikasi radio lintas instansi dan wilayah. Dalam pelaksanaan simulasi, komunikasi masih menggunakan perangkat secara lintas sektoral, sehingga diperlukan penguatan koordinasi agar kanal komunikasi kebencanaan yang telah disiapkan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Selain aspek komunikasi, evaluasi juga menunjukkan waktu evakuasi masyarakat dari kawasan pantai menuju titik aman masih berada pada kisaran 30–40 menit. Angka tersebut masih lebih panjang dibandingkan target dalam rencana kontinjensi, yaitu sekitar 20–25 menit.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana membutuhkan latihan dan koordinasi yang dilakukan secara berkala. Infrastruktur komunikasi, termasuk frekuensi radio, perlu dipastikan siap digunakan sebelum kondisi darurat terjadi.
Ke depan, Balmon SFR ID Kelas II Padang akan kembali memperkuat koordinasi dan sosialisasi kepada BPBD Provinsi serta BPBD kabupaten/kota di Sumatera Barat mengenai pemanfaatan frekuensi kebencanaan yang telah dialokasikan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Komdigi memastikan spektrum frekuensi radio tidak hanya tertata dan bebas dari gangguan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung keselamatan masyarakat ketika terjadi bencana.
Sumber/ Foto: Balmon SFR & ID Kelas II Padang/ Humas Infrastruktur Digital.