-
Email:
Callcenter_djid@komdigi.go.id -
Call us:
159 -
Webmail:
Surel
- Beranda
- Informasi & Publikasi
- Informasi Terkini
Seputar DJID
Mengubah Data Menjadi Cerita: Strategi Hadapi Tantangan Komunikasi Pemerintah di Era AI
Jakarta (Infrastruktur Digital) – Dalam era demokrasi digital yang bergerak cepat, tantangan terbesar pemerintah bukan lagi sekadar merancang kebijakan yang baik, melainkan bagaimana mengkomunikasikan kebijakan tersebut agar benar-benar dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Hal ini ditegaskan oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat membuka sesi town hall dengan para pranata pengelola akun media sosial selaku tim komunikasi di lingkup Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Sesi Town hall ini bertujuan memperkuat implementasi strategi komunikasi publik di lingkungan Komdigi dan diisi oleh Founder Total Politik dan Co-Founder Buka Lapak Miftah Sabri selaku Narasumber.
Menurutnya, niat baik pemerintah seperti pemerataan ekonomi dan investasi sumber daya manusia—akan sulit mendapat dukungan publik jika tidak dikemas secara menarik. "Kalau itu tidak tersampaikan dengan menarik, maka orang tidak akan mengerti. Di negara demokrasi, celah ini sangat gampang digunakan untuk menjustifikasi narasi anti-government," ungkapnya, Kamis (19/02/2026)
Evolusi Teknologi: Dari Radio hingga Artificial Intelligence (AI)
Miftah menyoroti sejarah panjang bagaimana teknologi membentuk gaya kepemimpinan dan kampanye politik. Mulai dari era radio yang mengandalkan kekuatan orasi suara seperti masa Soekarno, transisi ke era televisi yang memunculkan pemimpin visual seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga era internet dan media sosial yang melahirkan kampanye digital Presiden Joko Widodo dan tren podcast serta TikTok di era Presiden Prabowo Subianto.
Kini, kita tengah memasuki era Artificial Intelligence (AI). Namun, Miftah menekankan bahwa secanggih apa pun teknologi yang digunakan, prinsip dasar komunikasi tidak pernah berubah.
Tiga Rumus Abadi Komunikasi Publik
Dalam pemaparannya, Miftah membagikan tiga formula utama yang wajib dipegang oleh para praktisi komunikasi pemerintah:
- Content is King: Pesan dan narasi adalah raja.
- Automation is Queen: Platform teknologi (TV, media sosial, AI) adalah ratu yang memfasilitasi distribusi konten.
- Data is the Crown Prince: Analisis big data adalah putra mahkota yang memandu arah pembuatan konten.
"Sehebat apa pun big data yang Anda miliki, semahal apa pun server yang dipakai, kalau kontennya tidak enak ditonton, pesannya tidak akan sampai kepada masyarakat," tegas Miftah.
Kekuatan Storytelling di Atas Angka
Lebih lanjut, Miftah mengingatkan bahwa manusia secara evolusi diciptakan untuk lebih mudah mengingat cerita dibandingkan angka. Ia memberikan contoh sederhana: orang lebih mudah mengingat kisah sejarah atau cerita peradaban dibandingkan mengingat persentase pertumbuhan ekonomi secara akurat.
Oleh karena itu, tugas utama jajaran Komdigi adalah menerjemahkan data statistik yang kaku menjadi sebuah cerita kemanusiaan (hero journey). Masyarakat harus diajak untuk merasa menjadi bagian dari perjuangan pemerintah. Miftah mencontohkan keberhasilannya merangkul kelompok akademisi yang skeptis terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan mengajak mereka turun langsung melihat kondisi di lapangan dan ikut membagikan makanan, pandangan skeptis tersebut berubah menjadi dukungan penuh karena mereka dilibatkan langsung dalam "cerita" tersebut.
Sebagai penutup, Miftah Sabri berpesan agar tim komunikasi pemerintah tidak perlu alergi terhadap kritik atau narasi anti-government. Solusinya bukanlah diam, melainkan terus memproduksi konten tandingan yang kreatif, positif, dan berbasis cerita nyata.
"Bawalah sebanyak mungkin masyarakat bahwa yang kita kerjakan ini adalah langkah menuju jalan yang benar," tutupnya.
Sumber / Foto : Biro Humas Komdigi